Sidang Majelis Agung Istimewa



Sidang Majelis Agung Istimewa, Gerakan Warga GKJW, GKJW

Sidang Majelis Agung ke-4 tahun 1933 di Peniwen terasa istimewa. Hari itu Minggu 18 Mei 1933, hari terakhir sidang. Tiga orang lanjut usia dan satu anak dari Pulau Bali dibaptis.

Disidang hari sebelumnya, Tartib Eprayim telah memberikan pidato laporan perjalanannya ke Pulau Bali dengan rinci dan sangat luar biasa.

Baptisan Pak Sandi dan istri, cucu perempuannya dan Pak Soekaja saat itu terasa istimewa. Mereka datang langsung dari Bali dengan usaha dan biaya sendiri. Prosesi baptisannya "merusak" pakem liturgi yang selama ini ada. Menarik dan cukup berani. Karena ditengah acara sidang majelis tertinggi (Sinode).

Prosesi baptis, mereka diijinkan memakai pakaian adatnya (Bali). Ketika baptis tidak berdiri atau "jengkeng". Mereka duduk bersila seperti adat sembah di Bali. Jawaban baptisnya pun dengan kalimat bahasa Bali. Lalu menutupnya dengan nyanyian " Engkau Yesus kuikuti ". Itupun juga mereka nyanyikan dengan nada seperti tembang langgam Bali.

Ditengah kumpulan orang Kristen (Gereja) Jawa, sebagai orang Bali mereka terlihat tidak canggung dan berubah. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Seperti yang mereka katakan sendiri, “Kawangun dening Sang Kristus” (dibuat baru oleh Kristus).


Setelah terbunuhnya misionaris De Vroom di tahun 1881, Utrechtsche Zendings Vereeniging mundur dari Pulau Bali. Sejak itu Pulau Bali seperti tertutup dari kabar sukacita.

Pemerintah kolonial saat itu dengan hati-hati memberikan kebebasan beragama di Hindia-Belanda.

Pasal 177 jo 173 IS (Indische Staatsregeling) adalah dasar rujukannya. Intinya pemerintah memberikan kebebasan memeluk (memilih) agama tetapi harus menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat setempat. Semua usaha PI harus dengan se-ijin Gubernur Jenderal.

Demikian pula untuk pekerjaan sosial misionaris (pendidikan & kesehatan), distribusi literatur Kristen, penelitian bahasa ilmiah di pelayanan Lembaga Alkitab dan mengunjungi anggota jemaat di pelosok diperlukan izin khusus tambahan. (Bijblad no. 1127 dan 4642).

Sekitar awal tahun 1932 beberapa orang dari Bali Utara telah mencari kontak tentang Kekristenan ke Jawa Timur.

Pada Sidang Majelis Agung di Swaru Bulan November 1932, diputuskan untuk mengirimkan misi Bali dari Gereja Jawa Timur. Diutuslah Tartib Iprayim dan Darmoadi. Sedangkan Dr. Kraemer sebagai penasihatnya.

Akhir Januari Tartib Eprayim dan Darmoadi pergi ke Bali Utara. Mereka tidak membawa apa-apa, keluarganya pun tidak. Empat minggu di Bali, 1-2 minggu pulang untuk laporan ke Kreamer dan bertemu keluarga. Bersamaan itu seorang kolpotir Salam Mattijas diutus British and Foreign Bible Society ke Bali.

Di Bali Selatan Christian Missionary Alliance (Misi Amerika) yang berpusat di Makassar juga bekerja. Chiang Kam Fuk utusannya memiliki izin melayani diantara orang-orang Cina. Tetapi banyak juga pribumi yang diInjili. Pendeta Jaffray datang dari Makasar , sudah membaptis total 300 orang Bali. Berbeda jauh dengan di Bali Utara hanya 38 orang dibaptis di Bubunan, itupun dari empat desa.

Tetapi imbas dari baptisan antara Bali Utara dan Selatan terdapat perbedaan tajam.

Di Bali Utara dengan model Tartib Eprayim sebagai saudara "wong Mojopahit", biarpun ada penolakan orang Kristen baru oleh adat (desa) tetapi dapat diselesaikan dengan bijak. Tartib menyarankan kewajiban sosial (kewajiban bayar) kepada desa tetap dilakukan. Ia menghargai adat Bali tanpa merendahkan. Menganggap saudara, sesama wong Mojopahit. Tak heran laporan dari kolpotir, buku tembang Rasa Sejati dari Paulus Tosari yang banyak diminati.

Sedangkan di Bali Selatan, baptisan menuai banyak kritik dan pertentangan masyarakat setempat. Bahkan ketika para "Guru Jawa" (panggilan orang Bali untuk Tartib Eprayim, Darmoadi, Nekamio dan Salam.

Bandingkan dengan panggilan "Tuwan Amerika" untuk memanggil Pendeta Jaffray) pulang ke Jawa, Pendeta Jaffray tiba-tiba datang ke Bali Utara. Memaksa orang Bali yang percaya untuk dibaptis. Tetapi jawab orang Bali itu, "kami akan menunggu Guru Jawa kami datang, entah apa keputusannya".

Ketika Guru Jawa datang, mendengar itu Tartib Eprayim tetap bijak menanggapinya, " Sebagai orang Kristen disini aku merasa malu ". Tetapi rasa jengkelnya kadang memuncak. Kreamer dalam catatannya ke Bali pernah menulis, "Guru Tartib pernah berkata kepada saya, berbicara banyak dan asal tentang Roh Tuhan membuat saya jijik".

Benar saja setelah itu kampanye anti Kristen mulai marak di Bali. Pertentangan pun sampai ke Volksraad. Soekowati anggota Volksraad memperdebatkannya. Ia membuat mosi tidak mengakui misi di Bali. Hasilnya 41 suara melawan 9.

Penyelidikan pun dimulai. Seorang Residen (Bupati) di Bali mengatakan, telah ada 20 pengajuan misi di tempatnya. Mulai dari Pantekosta, Adven sampai Roma Katolik. Ia pun menyayangkan, dengan pertentangan ini, "membuat buruk citra Kristen" terangnya.

Bukan saja orang Bali yang bersimpati ke Kristen diinterogasi, Tartib Eprayim pun demikian. Mulai dari carik desa sampai Residen ia dipanggil. Walau lelah Tartib menjawab apa adanya. Awalnya orang-orang Bali yang menawarkan diri. Sambil memberi contoh, 4 orang dibaptis di Peniwen dan 2 orang dibaptis di Mojowarno. Mereka jauh-jauh kesana dengan kesadaran dan biayanya sendiri.
cari Google Map

Akhirnya hasil penyelidikan diumumkan. Tartib Eprayim (misi dari Majelis Agung) tidak melanggar ketentuan pasal 177 dan 173 IS.

Dan mencabut izin Chang Kam Foek (Christian Missionary Alliance) dengan keputusan pemerintah tanggal 29 Agustus 1933 No. 15.


Misi Bali adalah cerita yang istimewa. Karena kekurangan dana, semua mendukungnya. Seperti di Mojowarno diadakan Pasar Dermo. Sungguh luar biasa, basar hanya 2 malam ini dihadiri sekitar empat ribu orang. Uang yang didapatkan 150 gulden.

Perkumpulan wanita, "Wanito Roekoen Santoso" juga tidak mau ketinggalan. Bagaimana caranya ikut serta mendukung misi, terutama bagi perempuan Bali. Akhirnya para "Guru Jawa" itu tidak sendirian lagi. Dari hasil usaha itu, mereka bisa memberangkatkan istri dan keluarganya ikut mendampingi ke Bali. Penambahan Pendeta Nekamio (Maron) ke Bali juga hasil usaha ini.

Inilah sedikit catatan tentang sidang majelis tertinggi Gereja kita 88 tahun lalu. Sinode muda ini sudah melaporkan hasilnya.

Tugas dan panggilan Gereja memang mengumpulkan orang percaya untuk bersekutu bersama. Tetapi tugas panggilan Gereja bukan hanya Koinonia (bersekutu) saja, tetapi juga Marturia (bersaksi) dan Diakonia (melayani).

Title: Sidang Majelis Agung Istimewa
Permalink: https://gkjw.org/1059-sidang-majelis-agung-istimewa/
Category: Artikel