Taubat dan Muallaf dalam Timbangan Kenusantaraan Kita : In Memoriam Mas Didi "Dionisius" Kempot



gkjw-didikempot-mualaf

1. RANAH PRIVAT, BUKAN KONSUMSI PUBLIK

Menghadapi maraknya ujaran kebencian (hate speech), ramai-ramai kita sematkan identitas kenusantaraan dalam agama kita. Apakah itu Islam, Hindu atau Kristen, lebih ramah rasanya kalau kita sematkan kata “nusantara” di belakangnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini “syahwat keagamaan” kita cepat sekali naik dalam menyikapi setiap kejadian.

Dan itu, sadar atau tidak, sering kita ekspresikan kala kita gembira mendengar orang masuk ke agama kita. Dalam banyak kasus konfersi yang dijajakan, selalu ada dua pihak yang ditempatkan dalam posisi berhadap-hadapkan: “rumah lama” yang dijelek-jelekkan, dan “rumah baru” yang lantas dipujanya setinggi langit. Penghuni rumah lama pun gerah dan tensi “apologetik”-nya naik juga.

Itu karena tak semua yang dinarasikan para penjaja agama itu benar, yang ironisnya tak terlalu dipusingkan para “penjajan”-nya, karena itu yang lebih memuaskan syahwatnya. Benar atau salah, itu mah tak penting lagi. Apalagi sebagai komoditi, yang penting laku dijual.

Syahdan, para pihak yang sadar atau tidak, ditarik pada posisi vis-a-vis tadi, masing-masing melabeli fenomena itu dengan perspektif teologisnya. “Ah, dia kan murtadin”, kata penghuni rumah lama. “Puji Tuhan, Roh Kudus sudah menjamahnya”, atau "Alhamdulillah, sudah dapat hidayah". Gegap sambutan pun membahana di rumah baru. Keduanya tampak sama-sama salehnya. Meskipun tak ada yang salah dengan semua itu, namun menajamnya pembeda-bedaan cukup meresahkan juga.

Ngono ya ngono, ning aja ngono. Dilemanya kira-kira seperti ini. Memilih seorang istri karena dianggapnya paling sexy adalah sah-sah saja, dan malahan harus. tetapi menjelek-jelek istri orang lain kurang atau tidak sexy, adalah tak wajar bahkan kurang ajar. Namun bukankah itu yang sering kita saksikan akhir-akhir ini? Ya, tak sungkan-sungkannya ranah privat ini disiarkan ke ruang publik, malahan tak tanggung-tanggung oleh tokoh-tokoh agama yang melabeli identitas “nusantara” di belakang madzab pemikirannya.

2. STANDAR KENUSANTARAAN KITA

Lalu sampai dimana sebenarnya standar kenusantaraan kita? Apakah kenusantaraan sebatas kesantuan dan keramahtamahan? Nah, kita yang sudah terlalu biasa mendengar khotbah-khotbah yang mencaci, kasar dan penuh kebencian, begitu hal yang sebanarnya sama dijajakan dengan santun, seolah-olah itu sudah “nusantara”?

Padahal spiritnya sama, “imperialisme teologis” berlagak benar sendiri, yang sadar atau tidak menumpulkan empati kita terhadap “liyan” (the others) yang berbeda dengan kita. Spirit itu tak reda, bahkan dalam suasana orang duka sekalipun. Ini terjadi ketika Didi “Dionisius” Kempot, maestro campur sari yang secara tiba-tiba dipanggil Sang Pencipta. “Saya tegaskan Mas Didi itu Muslim”, kata seorang publik figur. Itu gara-gara ada yang tega-teganya bikin hoak unggah foto jenazah berjas hitam a-la Kristen dibilang itu almarhum Didi Kempot. Terlalu.

Tetapi kalau yang saya rasakan, justru berpulangnya Mas Didi rasanya akan lebih indah bila dirayakan oleh semua agama, yang sama-sama merasa memilikinya, ternasuk mereka yang seiman dengan ibunya. Jadi, apapun pilihanku dan pilihanmu, tak perlu memutuskan “silaturrahim kebangsaan” kita. Inilah Nusantara di mata saya, bukan sekedar eufemisme basa-basi.

Coba bandingkan dengan saat Tuhan memanggil penyair Khalil Gibran ke pangkuan-Nya. Semua orang di bawah langit timur dan barat merasa kehilangan dan sama-sama mengantarkan kepulangannya. Ketika itu tak pernah ada penegasan dari pastor gereja Maronit: “Saya tegaskan ya, Gibran itu seorang Kristen!” (meski dalam syair-syairnya Gibran sering berdendang bersama Jalaluddin Rumi). Bagi saya, Mas Didi layak menerima kehormatan seperti penyair Lebanon itu, toh penikmat tembang-tembang merdunya tak pernah ngurus apa agamanya.

Tampaknya, penegasan ke-“muslim”-an Didi Kempot itu netral-netral saja. Tetapi cobalah kita pikirkan, Karena Mas Didi itu muallaf, apa ucapan itu tak melukai keluarga ibunya yang masih non-Muslim? Kata “masih” ini pun tentu diucapkan oleh mereka yang ingin orang lain seagama dengannya, meski sebaliknya bagi non-Muslim kata “masih” itu mengganjal juga.

(Mengapa “masih” bisa saja melukai? Sebab mereka berhak untuk “tetap katolik”, “tetap Hindu”, atau tetap menjadi apapun yang mau dipertahankannya, bahkan mereka juga boleh punya harapan yang sama agar orang lain menjadi seperti dirinya).

3. MENGEMBAN "DHAWUH SUCI" IBU PERTIWI

So, Nusantara bukan hanya gugusan “pulau-pulau (nusa)” yang berada “di antara” dua lautan dan dua benua, yang karena takdir Sang Alfa-Omega telah menempatkan kita sebagai putra-putrinya. Nusantara adalah gugusan beragam nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh para penganutnya, tanpa menisbikan nilai-nilai lain yang sama-sama dijunjung tinggi oleh saudara-saudari kita yang berbeda Inilah wajah ibu pertiwi, yang kita sungkemi dan kita takuti “tuah saktinya” kala kita melawan degub jantungnya yang melafaskan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Tetapi apa dengan begitu semua konfersi agama mendukakan ibu kita? “Tidak juga, anakku”, kudengar suara ibuku berbisik lirih bersama semilir bayu malam, kala aku pandangi cantik wajahnya. “Hanya pesanku”, katanya, “Jangan lukai hati anak-anakku yang lain. Torang samua basodara to? Buktinya, ratusan bahkan ribuan tahun, India, Cina, Arab dan Eropa silih berganti datang dan tinggal di sini dalam rentang panjang sejarah kita, dan semua sudah berbeda sejak awalnya. Kapan aku pernah menolak mereka?”.
“Semua justru memperindah mozaik kebhinekaan kita, Kanjeng Ibu?”, tanyaku dalam takjub. “Ya”, jawabnya. “Semua berjalan damai dan alami, rasanya tak ada yang seheboh sekarang?” (menunduk aku merenungkan “dhawuh”-nya, sebab tak tega aku melihat wajah sedihnya).

“Kamu ingin lebih mendengar suara hatiku?”, tanyanya seolah tak menunggu jawab dariku, “Lantunkanlah kembali Kakawin Sutasoma” (tiba-tiba saja, Mpu Tantular memperdengarkan kembali kisah Porusadhasanta, yang kini menjadi warisan sastra dunia itu).

“Apan tiwas juga sirang muni buddhopaksa, yan tan wruh ring paramatatwa Siwatwamarga (Karena pendeta Buddha akan gagal mencapai tujuan jika ia tidak mengetahui jalan utama Siwa)”, Ida Bagus Sugriwa menerjemahkannya. “Mangkang munindra sang apaksa Siwatwa yoga, yan wruh ing paramatma Jina manda (begitu juga dengan pendeta Hindu-Siwa akan lemah bila tidak mengetahui kebenaran tertinggi Sang Buddha).

Saya juga teringat Sunan Kudus yang rela tidak "dhahar" soto sapi, karena tidak mau melukai saudara-saudari “Hindu”-nya. Namun kalau toh akhirnya ada orang Hindu yang lebih nyaman ketika menjadi muslim, itu adalah pilihannya. Tak ada yang melukai atau dilukai. Sebaliknya, kalau ada orang Muslim yang lebih “sreg” menjadi Kristen karena evangelisasi Kyai Abdullah Tunggul Wulung, harusnya juga menyikapi seperti dakwahnya Walisongo dulu.

Sebab pernah saya dengar dari publik figur lain yang salah menilai Kyai kebanggaan Kristen Jawa itu. “Namanya aslinya Abdullah”, katanya meski dengan gayanya berseloroh, “merga ra kuat melarat terus melu Londo” (karena tak tahan miskin terus ikut Belanda). Halus sekali menggiring pendengarnya, seakan Kristen itu agama warisan penjajah.

Padahal yang perlu diluruskan, Kyai Tunggul Wulung bukan “trahe wong pidak pedarakan” (rakyat jelata yang miskin). Terlahir dengan nama Raden Tandakusuma, masih cicitnya Pangeran Sambernyawa (Mangkunagara I), dan justru Sang Kyai adalah musuh yang dikejar-kejar Belanda. Dan dalam pengejaran itu, tokoh yang juga disapa dengan Ki Ajar Kelud itu mengalami “pertobatan” (maaf ini “bahasa” dari mereka yang setuju dengan "credo"-nya) setelah bertemu Gusti Almasih, Sang Ratu Adil, dalam semedinya di gunung Kelud”.

Pengakuan bahwa Sang Kyai bukan hanya milik orang Kristen, sampai sekarang makamnya dikunjungi oleh banyak sahabat Muslim, dan namanya terabadikan sebagai nama jalan di kota Pati.

4. WUSANA KATA

“Last but not least….”, sejujurnya ini harus saya katakan, labelisasi "nusantara” di belakang agama kita, seharusnya kita maknai sebagai upaya kontekstualisasi dalam kerangka penghormatan terhadap sesama anak bangsa yang berbeda-beda Sebab label “nusantara” yang dipahami sekedar sebagai eufemisme basa-basi tadi, di mata banyak teman Hindu, menyakitkan juga. Mengapa? Terus kalau sudah santun, tidak bakar-bakar atau sweeping warung-warung setiap Ramadhan itu sudah “nusantara”? Apa kalau tokoh Prabu Yudistira dalam Mahabarata sudah di-“syahadat”-kan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dalam dongeng Jawa itu juga Nusantara?

“Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati….”, kudengar kembali tangisannya memecah sepi. “Mengapa kembali bersedih, Dhuh Kanjeng Ibu?”, kuberanikan untuk bertanya lagi. “Aku hanya ingin anak-anakku mendekapku kembali….”, katanya penuh harap, masih terisak. “Jangan menangis lagi. Ibu. Kalau generasiku masih gagal mengemban “dhawuh suci”-mu, lihatlah anak-anakku, mereka sudah mulai fasih kembali mengeja Pancasia”, aku berjanji sekali lagi.

Sayap-sayap fajar pun mulai mekar, segera membuka lembaran pagi.

"SUGENG TINDAK MAS DIDI!"

Refleksi “lingsir wengi”
di “Roemah Bokoe” Malang, 7 Mei 2020

Oleh : Bambang Noorsena

Title: Taubat dan Muallaf dalam Timbangan Kenusantaraan Kita : In Memoriam Mas Didi "Dionisius" Kempot
Permalink: https://gkjw.org/125-taubat-dan-muallaf-dalam-timbangan-kenusantaraan-kita-in-memoriam-mas-didi-dionisius-kempot
Category: Artikel