Lumbung Pirukunan – Catatan Ekonomi Gerakan Warga (Bagian 4)



Lumbung Pirukunan - Catatan Ekonomi Gerakan Warga (Bagian 4), Gerakan Warga GKJW, Gerakan Warga GKJW

Lumbung Pirukunan – Catatan Ekonomi Gerakan Warga (Bagian 4)

Gereja megah Mojowarno telah kokoh berdiri seabad lebih. Berawal dari bangunan biasa saja. Berkerangka kayu dan beratap daun King-King. Selanjutnya dengan biaya 4 Gulden diganti dengan bambu. Di masa Pdt W. Haezoo, Gereja Mojowarno direnovasi sehingga berdinding kayu, beratap genting dan lantai diplester.

Tiba-tiba tahun 1841, Paulus Tosari mengusulkan didirikan tempat ibadah yang lebih besar lagi. Tahun 1849 terkumpul Dana Swadaya 6.000 Gulden. Jumlah cukup besar, jika dilihat dari swadaya sendiri dan penduduk Mojowarno mayoritas petani.

Bagaimana caranya?
Lumbung Pirukunan, jawabnya.

Melanjutkan model Lumbung Miskin dengan aturan yang lebih spesifik lagi. Paulus Tosari Mengajak Warga menyimpan padi di lumbung pirukunan. Ketika harga padi naik, lumbung menjual padinya, sehingga mendapat margin keuntungan cukup besar.

Tetapi konsep Lumbung Miskin tetap ada. Membantu warga miskin yang kesusahan, tetap dilakukan. Hal ini begitu penting saat itu. Catatan Zending menunjukkan saat itu banyak masyarakat yang terjerat rentenir. Bunga tinggi mencekik, sampai 100%. Contoh saja: pinjam 4 ikat padi, mereka harus mengembalikan 8 ikat. Lumbung Pirukunan hanya memberi bunga sekitar 20% setahun. Itupun hanya untuk modal kerja (menggarap sawah). Sedangkan pinjaman untuk kesusahan misal sakit atau meninggal tidak ada bunganya. Lumbung Pirukunan ini dikelola oleh 3 (tiga) orang pengurus yang didaur setahun sekali.

Itulah catatan cara mendapatkan uang secara mandiri. KEGOTONG-ROYONGAN WARGA terasa disana. Bukan saja cara mencari dana, pembangunan fisik Gereja juga. Tanpa mandor dan tukang, semua bekerja sukarela tanpa dibayar. Dan hasilnya bisa dilihat sendiri.

Setelah bangunan Gereja megah berdiri. Lumbung Pirukunan tidak serta merta bubar. Masih terus berlangsung, meningkatkan kesejahteraan WARGA, terlebih dari jerat rentenir. Bahkan lebih maju lagi, hasil penjualan padi ditabung di Bank.
Risalah 100 tahun Bank Tabungan Umum atau Nuts Spaarbank Jalan Jembatan Merah No. 3 Surabaya, mencatat nama Tuan Kyai Simeon Sadrana dari Mojowarno sebagai penabung pertama.
cari Google Map

Tidak ada salahnya kita sebagai generasi penerus NUNGGAK SEMI. Mengikuti jejak pendahulu.
Semoga…

Oleh:
Hadiyanto, bit.ly

Bagian 1: Koperasi
Bagian 2: Lumbung Desa
Bagian 3: Lumbung Miskin
Bagian 4: Lumbung Pirukunan
Bagian 5: Unduh-unduh

Title: Lumbung Pirukunan – Catatan Ekonomi Gerakan Warga (Bagian 4)
Permalink: https://gkjw.org/723-lumbung-pirukunan-catatan-ekonomi-gerakan-warga-bagian-4/
Category: Artikel