Penjual Roti



Penjual Roti, Gerakan Warga GKJW, GKJW

Saat makan siang tadi, Edwin, anak sulung kami, mengajak saya diskusi tentang buku The Alchemist -Paulo Coelho-. Buku itu dia baca sejak hari Senin malam, tadi pagi dia sudah selesai membaca hanya saja dia bingung dengan akhir kisahnya yang menggantung.

Sambil makan saya ajak Edwin kembali memahami bagian per bagian perjalanan Santiago, anak muda penggembala kambing yang menjadi tokoh utama sang Alkemis. Saya sengaja menjawab Edwin dengan menyebut kesimpulan kisah Alkemis, Edwin harus berusaha memahami dan menyimpulkan sendiri. Selain itu saya sudah mulai banyak yang lupa isi buku itu, maklum saya terakhir membaca Sang Alkemis sekitar Maret atau April tahun lalu.

Diskusi berlangsung seru, untungnya Edwin lebih dominan membahas runtutan perjalanan Santiago. Saya tinggal menimpali apa yang disampaikan Edwin, walau beberapa kali saya keluar jalur, Edwin hanya tertawa.

Di satu bagian, saya sempat merasa seperti dipause, untuk beberapa saat waktu sepertinya berhenti berputar. Ini terjadi ketika Edwin menjelaskan pesan moral yang dia ambil dari kehidupan penjual roti di alun-alun kota Andalusia. Andalusia adalah kota yang dipilih oleh Paulo Coelho menjadi lokasi awal kisah Sang Alkemis.

Penjual roti di alun-alun kota Andalusia adalah orang yang pernah punya mimpi ingin berkelana ke Afrika, tetapi dia memutuskan untuk membuka toko roti, lalu mengumpulkan uang. Nanti, kalau sudah tua, dia ingin bepergian selama sebulan ke Afrika. Setelah toko rotinya maju dan menghasilkan banyak uang, dia justru larut dalam kesenangan mengumpulkan uang, mimpinya berkelana ke Afrika dilupakan.

"Mimpi itu harus dijaga, dirawat dan terus diusahakan sampai terwujud.", kata Edwin mulai menguraikan pesan moral yang dia ambil dari kisah penjual roti. Selebihnya kami berdua membahas pesan moral yang Edwin maksudkan, yang membuat saya merasa dipause adalah saat Edwin menyebut kita juga bisa kehilangan mimpi dari Tuhan kalau menunggu situasinya memungkinkan. Mak deg, saya tercekat dia bisa mikir ke situ. Tadi saat menyebut mimpi dari Tuhan pun bisa hilang, Edwin menggunakan kalimat yang sangat sederhana tetapi saya lupa kalimat itu persisnya seperti apa.

04 Januari 2000 adalah hari keberangkatan saya ke Papua, sebelum berangkat saya pamitan kepada beberapa orang, keluarga dan persekutuan yang melayani saya. Salah seorang yang saya temui berkata, dia juga mendapat visi untuk pergi ke Papua, tetapi dia masih mempersiapkan segala sesuatunya. Katanya mengerjakan visi dari Tuhan harus dipersiapkan dengan baik, tidak bisa dilakukan sembarangan. Saya tidak tahu dan tidak pernah tanya, persiapan apa saja yang dia lakukan, karena sampai hari ini dia belum berangkat ke Papua. Mungkin masih persiapan atau sudah lupa, hanya Tuhan yang tahu.

Bukan hanya penjual roti di Andalusia dan teman saya di Malang yang bisa lupa mimpi atau visi, kita semua (termasuk saya) bisa mengalami atau saat ini sedang lupa terhadap mimpi atau visi yang pernah diterima dari Tuhan. Penyebab lupa bisa macam-macam, mungkin seperti penjual roti yang masih ingin ngumpulin uang dulu, atau seperti teman saya yang menunggu semuanya harus siap dulu.

Seusai diskusi dengan Edwin, saya membaca ulang buku sang Alekmis untuk mengingat bagaimana Santiago bisa tahu penjual roti di alun-alun Andalusia pernah mimpi berkelana ke Afrika, ternyata yang memberitahu Santiago adalah Melkisedek, raja Salem. Orang tua yang mengganggu saat Santiago serius membaca buku, mengajak berkenalan dengan cara aneh, membaca pikiran Santiago, menuliskan nama orang-orang yang dikenal Santiago, mengajari tentang banyak hal, dan memberitahu mimpi penjual roti. Melkisedek berkata kepada Santiago, penjual roti itu tidak bisa mewujudkan mimpinya karena dia tidak tahu bahwa impiannya bisa dilaksanakan kapan saja.

Apakah benar mimpi atau visi bisa dilaksanakan kapan saja seperti yang dikatakan Melkisedek kepada Santiago, bahwa mimpi bisa dilaksanakan tanpa menunggu punya uang, keadaan baik, kesempatan yang memungkinkan, bagaimana caranya?

Pertanyaan itu tiba-tiba menyeruak di benak saya, saat itu juga saya mendengar 'Melkisedek' berkata lembut : Nuh memulai mimpinya tanpa uang, keadaannya sedang tidak baik, dibully banyak orang, semua serba tidak memungkinkan.

Saya pun bergegas membuka aplikasi Alkitab, Kejadian 6:22 menyebutkan, Nuh melakukan semua itu hanya dengan ketaatan kepada Firman Tuhan.

In His Vine
Finish Winarto
Nabire – Papua.

Title: Penjual Roti
Permalink: https://gkjw.org/1051-penjual-roti/
Category: Artikel