Warung Kopi Tak Kie



gkjw-warung-kopi-tak-kie

Kopi yang dibesut keluarga Liong di Warung Tak Kie ini diramu (dan populer) sejak pertengahan 1970-an, meskipun kedai ini sudah dibuka sejak 1927. Lokasinya di tengah-tengah pecinan di Jakarta Utara. Pecinan adalah kawasan yang ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sesuai wijkstelsel (1843) yang memisahkan pemukiman berdasarkan ras.

Sajiannya hanya dua jenis: kopi biasa (hitam) dan kopi dengan susu (kental manis). Sajian kopi andalan di Tak Kie adalah memakai es. Untuk rasa: boleh dibilang enak. Konon, resep kopi ini racikan Ayauw, cucu dari Liong Kwie Tjong —dari perantau Tiongkok yang membuka Tak Kie.

Awalnya kedai ini hanyalah sebuah warung di kawasan petak sembilan (sebuah blok dalam Pecinan). Adalah anak dari Liong Kwie Tjong yang memindahkan kedainya ke Gang Gloria saat ini.

Sebagai warung, boleh jadi perdagangan minuman penyegar di Tak Kie dipicu juga oleh pendirian pabrik es terbesar di Jakarta, NV Ijs Fabriek Rawa Bening pada 1928.

Racikan kopinya konon mengambil biji arabica dari Lampung, namun ketika dicicipi sebenarnya yang lebih kuat adalah corak robusta yang disanggrai matang (well roasted). Tapi ini tak perlu dimasalahkan, sebab dalam dunia minuman penyegar macam kopi, hal terpenting sebenarnya rasa, bukan jenis biji dan cara.

Pasar Glodok sendiri adalah kawasan yang sejak lama menjadi pusat perniagaan, khususnya bagi pedagang Tionghwa. Nama Glodok-Pancoran, konon berasal dari suara pancuran air di belakang kampung ini, tempat orang mengambil air pada abad ke 18-19 Masehi.

Pancuran ini bersuara “glodok-glodok” karena digerakkan kincir. Penamaan tempat dengan toponimi ini sesuatu lazim. Pasar Glodok sendiri beberapa kali berubah bentuk, antara lain karena terbakar, juga kerusuhan, namun tetap menjadi pusat perekonomian retail pedagang Tionghwa hingga kini.

Raymond Valiant, buka Facebook

Title: Warung Kopi Tak Kie
Permalink: https://gkjw.org/163-warung-kopi-tak-kie
Category: Bineka