Sitiarjo sak’tleraman

A. Cikal-bakal

Kita adalah umat terberkati yang sudah selayaknya selalu bersyukur kepada Tuhan Allah, karena Dia telah memperkenankan kita menyaksikan karya kasih-Nya melalui tahapan-tahapan sejarah pembangunan komunitas Kristen Sitiarjo. Berikut ini kisahnya :

Tersebutlah seorang tua bernama Kyai Truna Semita yang tinggal di Wonorejo – Bantur Kabupaten Malang. Ia adalah putra kedua dari tokoh “bedhah krawang” komunitas Wonorejo yaitu Ki Ibrahim Tunggul Wulung asal Juwana – pesisir Utara Jawa Tengah yang sempat bertapa di lereng Gunung Kelud, dan memeluk agama Kristen sejak dibaptiskan pada tanggal 6 Juli 1857 di bawah asuhan Pdt J.E Jellesma (pasamuwan Mojowarno – Jombang).

Kyai Truna Semita berperan penting dalam meramaikan pembukaan lahan Swaru – Gondanglegi. Di situ ia bersahabat dg para pendatang, antara lain dengan para keturunan Raden Mas Sandiya Suramenggala, yaitu kakak beradik Sarna Krama Setja, Garta Ngastawa, Kasminah (istri Sarub), Astama, Kasiman & Sarta (suami Tramisih) yang tadinya boyong dari desa Karungan – Sidoarjo, Pasamuwan Sidokare. Suatu ketika Beliau melontarkan ide kepada para sahabatnya untuk membuka sebuah dataran di Lembah Sungai Panguluran yang masih berupa “alas gung liwang-liwung jalma mara jalma mati”. Setelah beberapa kali rembugan, Beliau dan guru Krama Setja sepakat meminta Garta Ngastawa melakukan survey ke tempat tersebut. Untuk itu mereka juga mohon doa restu kepada Pdt D. Louwerier selaku pemimpin Pasamuwan Swaru.

Survey ke dataran di hutan Panguluran dilakukan dua kali. Survey pertama dilaksanakan Garta Ngastawa bersama dua orang sahabatnya, yaitu Tapa dan Mangun. Mereka tiba di perbukitan sisi Utara dan mendirikan sebuah pondok sederhana. Dari situ mereka memandang ke seluruh lembah subur yang tampak seperti pinggan (Jawa: Dulang), sehingga menyebut tempat mereka saat itu sebagai “Pondok Dulang”. Selanjutnya, pondok itu dijadikan pos tinggal selama pelaksanaan survey ke seantero ngarai. Hasil survey berminggu-minggu itu kemudian dilaporkan kepada Pdt. D. Louwerier.

Survey kedua dilakukan lebih jauh sampai ke dataran di balik perbukitan sisi Timur, yg di kemudian hari dikenal dengan nama Tambakrejo. Kali ini surveyornya ada empat orang, yaitu dg tambahan Kastam. Setelah survey kedua selesai dilakukan, maka segera digelar persiapan bersama untuk pembabatan hutan tahap pertama. Sementara itu, Pdt Louwerier menyiapkan berkas permohonan ijin pembukaan hutan kepada pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Batavia. Ada lima belas keluarga yang siap membuka pemukiman dan persawahan di sekitar Pondok Dulang tersebut. Sembari menunggu penerbitan surat ijin dari Batavia, pada tahun 1893 mereka mulai membuka lahan dengan lebih dulu mendaraskan bersama “Donga Rama Kawula”.
B. Surat Ijin Resmi dan Pendirian Pasamuwan Sitiarjo

Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya pada tanggal 11 Februari 1897 mereka menerima surat ijin resmi berlogo singa atas nama Pemerintah Hindia Belanda dengan tanggal penerbitan 25 Juni 1895, maka resmi sudah upaya pembukaan lahan yg mereka lakukan selama ini. Selanjutnya tanggal tersebut dilestarikan sebagai hari ulang tahun Pasamuwan Sitiarjo, yang kemudian beralih nama menjadi GKJW Jemaat Sitiarjo dg penegasan SK Dirjen Bimas Kristen Depag RI bernomor F/Kep/38/3685/79 tertanggal 10 Oktober 1979. Dengan demikian, pembukaan pemukiman baru itu juga berarti dimulainya perkumpulan orang-orang Kristen di wilayah tersebut. Pembukaan pertama itu dilakukan pada sisi Utara sungai Panguluran dg sebutan Sitiarjo

Proses pembukaan lahan baru itu bukannya tanpa hambatan sama sekali. Suatu ketika sempat terjadi penyerbuan orang-orang dari dusun Gombloh – Druju yang ingin dapat bagian dari pembukaan hutan tersebut. Tetapi usaha ini bisa digagalkan karena nenek moyang kita memiliki surat ijin berkekuatan hukum dari pemerintah, sehingga mempunyai alasan kuat untuk meminta para penyerbu itu pergi dari lingkungan lahan. Hambatan lainnya adalah kurangnya pembinaan rohani warga, maka atas usulan Garta Ngastawa lalu Pdt Louwerier menugasi Guru Injil Akimas melayani persekutuan umat Tuhan di situ. Ini menunjukkan nenek moyang kita berkeyakinan bahwa pembukaan lahan baru haruslah diimbangi dengan pengembangan kualitas mental dan iman yang baik pula.

Surat resmi kedua diturunkan bertanggal 18 Agustus 1898 sebagai ijin membuka lahan pada sisi Selatan sungai Panguluran yang kemudian disebut dengan nama Pulungrejo. Pembabatan hutan di area ini selesai pada tanggal 17 Agustus 1901 di bawah pimpinan Saliman (ngKik Jasminah), seorang sahabat Garta Ngastawa dari keturunan Raden Tumenggung Suradita. Saliman juga dibantu oleh keponakannya bernama Gadri dari Mojowarno yang setelah dibaptis namanya ditambah dengan Domikus. Setelah Garta Ngastawa dan Saliman memasuki usia senja, maka pengembangan Sitiarjo dilanjutkan oleh Wardja dan pengembangan Pulungrejo diserahkan kepada Inswiadi (cucu Saliman).

Segera setelah selesainya pembukaan lahan Pulungrejo, pada tahun 1901 itu pula mulai dibangun sebuah gereja kecil yang juga difungsikan sebagai sekolah di lahan Pasamuwan Sitiarjo, yang sekarang merupakan area SMP YBPK Sitiarjo. Pemeliharaan rohani warga jemaat tetap diemban oleh Guru Injil Akimas, sedangkan proses pendidikan sekolah mula-mula hanya diemban oleh guru Ernes dan Pak Sasminah. Oleh karena jumlah siswa semakin bertambah, maka dibangunlah sebuah sekolah yang lebih luas di lahan sebelah Barat milik Pasamuwan Sitiarjo, yang sekarang menjadi area SDN Sitiarjo I. Sedangkan gedung gereja hanya dipakai untuk beribadah. Kawasan baru itu bertambah ramai sampai akhirnya disadari bahwa gedung gereja lama tidak lagi memadai, maka mulai tahun 1918 dibangunlah gedung gereja baru yang lebih luas dan besar di sisi Utara sungai, tepat di lereng lembah Panguluran. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pdt De Vries, selaku pendeta baku di pasamuwan Swaru. Tahun 1921 pembangunan gedung gereja berhasil diselesaikan dan diresmikan sebagai rumah ibadah Pasamuwan Sitiarjo.
C. Dusun Pondok Dulang Menjadi Desa Sitiarjo

Pemukiman baru tersebut, baik Sitiarjo di Utara maupun Pulungrejo di Selatan waktu itu semakin terkenal dg nama Dusun Pondok Dulang. Namun kedua wilayah itu tergabung kepada dua desa yang berbeda. Sitiarjo menjadi bagian dari Desa Gedhog – Turen, sedangkan Pulungrejo menjadi bagian dari Desa Pamotan – Druju. Kebutuhan warganya juga semakin banyak, seiring dengan semakin banyaknya pertambahan penduduk di situ. Untuk mencukupi kebutuhan kewarga-negaraan umat, maka sejak tahun 1906 mulai dilakukan persiapan penyatuan Sitiarjo dan Pulungrejo menjadi sebuah desa mandiri. Setelah seluruh persiapan dianggap cukup, maka dimulailah proses pembentukan desa dengan didahului pemilihan kepala desa secara demokratis. Ada empat orang calon kepala desa, yaitu Wariyo, Sampunah, Lesinar dan Rema Surareja. Akhirnya terpilihlah Rema Surareja (menantu Sarub) sebagai kepala desa pertama dan sejak itu desa tersebut dinamai Desa Sitiarjo.

Desa Sitiarjo semakin ramai dengan pendatang, terlebih lagi dengan dibangunnya sentra-sentra fasilitas umum di atas tanah milik Pasamuwan Sitiarjo berupa poliklinik dan lapangan sepak bola. Demikian juga dibangun sentra ekonomi berupa pasar, yang semula berada di sisi Selatan sungai Panguluran, namun setelah musibah banjir dipindah ke sisi Utara sungai. Penduduk desa juga mengalami proses adaptasi dan asimilasi dengan saudara-saudaranya yang berasal dari luar desa. Yang semula penduduk Desa Sitiarjo 100% hanyalah warga GKJW Jemaat Sitiarjo, selanjutnya mulai menerima saudara-saudaranya dari denominasi Kristen yang lain seperti GpdI, GBI, GPT, GAB dan GSJK. Sekarang di desa ini sudah terdapat enam belas buah gereja. Begitu juga saudara-saudara Muslim mulai berdatangan untuk menetap di sini. Awal tahun 1985 di bawah pimpinan Bpk. Sutajam selaku pejabat sementara Kepala Desa Sitiarjo, penduduk secara kompak bahu membahu membangun sebuah mushola di dusun Ganjarsari, yang sekarang sudah menjadi Masjid Baiturrohim. Berikutnya, di bawah pimpinan Kades Yudo Wahyono dibangunlah masjid di Palung Lor dan di sisi Utara pasar. Terakhir, di bawah pimpinan Kades Bartholomeus Diaz dibangunlah masjid di dusun Sumber Gayam. Pada hari Senin, 9 Juni 2014 di bawah kepemimpinan Kades Lispiyanto Daud untuk pertama kalinya sejak 119 tahun berdirinya pemukiman Kristen Sitiarjo, di lapangan desa ini digelar pengajian oleh sekitar 400an warga desa yang beragama Islam untuk turut mendoakan kedamaian dan kesejahteraan desa.

Sampai sekarang Desa Sitiarjo terus bergerak menggelar kemajuan bersama desa-desa lain di sekitarnya. Kaum mudanya juga semakin kreatif menanggapi perkembangan. Kecintaan akan desa dan kesadaran dalam merespon dinamika sosial lokal mereka ekspresikan dalam berbagai karya yang menakyubkan. Adalah sekelompok kaum muda yaitu Priyo Wibowo, Cahyono Hariadi, Christian Sonny dan Suelmi Wijilingtyas bekerja-sama menciptakan dua buah lagu yang indah khas Sitiarjo yaitu “Sitiarjo Ngrembaka” dan “Sitiarjo Seksi”. Rupanya kaum muda desa ini juga semakin menyadari betapa permai desa mereka, sehingga mengundang kumbang-kumbang berdatangan untuk turut menghirup sari madunya. Desa Sitiarjo sekarang semakin berkembang menjadi berkat bagi segenap umat manusia yang berada di sekitarnya. Kiranya Sang Isa Almasih yang menjadi Penghulu Pembangunan Desa menurunkan damai sejahtera bagi segenap warga desa.

(Paguyuban Nom-noman Peduli Sitiarjo – Paman Dirjo)

DI SINI AKU MERDEKA

Mungkin bagi kita

“merdeka” hanyalah segumpal kata tanpa makna
Mungkin bagi kita
“merdeka” adalah selembar utopia tanpa upaya
Mungkin bagi kita
“merdeka” adalah seutas harapan sia-sia

karena kita meletakkannya jauh di luar sana….
bukan sbg realita yg terpatri di hati kita
sejak mana Tuhan mengijinkannya
tatkala kita lahir di muka dunia

meronta dari nyamannya rahim bunda

Dirgahayu bangsaku
Indonesia tercinta

Situs milik semua warga GKJW